RSS

Shutter Island

 
Cerita berlangsung pada 1954 saat badai hebat menerpa selama rentang empat hari di sebuah pulau tempat para kriminal penderita kejiwaan mendekam di Ashcliffe Hospital (dalam masa di mana perawatan kejiwaan diragukan).
Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio), seorang veteran Perang Dunia II terhormat sekaligus marinir AS yang cerdas, tiba untuk menyelidiki raibnya seorang pembunuh perempuan (Emily Mortimer) dari sebuah ruangan terkunci.  Daniels menemukan bahwa seiring intensitas badai meningkat, komunikasi dengan dunia luar benar-benar terputus, dan satu-satunya teman adalah mitra barunya (Ruffalo).  Semakin Daniels mendalami penyelidikannya, semakin jelas ia melihat peristiwa yang tersembunyi.  Dia mulai takut dirinya mungkin tidak akan diizinkan untuk meninggalkan pulau tersebut.
Martin Scorsese, seorang pendongeng hebat, terkenal karena film-film seperti Taxi Driver, Raging Bull, Goodfellas, Gangs of New York, The Aviator, dan karya terbarunya yang berjaya di Oscar, The Departed.  Film dengan perpaduan antara horor Gothic, bayangan gelap, dan thriller klasik, adalah jenis film yang paling disukainya.
Bersama dengan bintang besar yang terdiri dari DiCaprio, Ruffalo, Mortimer, Ben Kingsley, Michelle Williams, Patricia Clarkson, dan Max von Sydow, Scorsese membawa kita ke dalam sebuah dunia labirin yang memperlihatkan banyak penjara sebagai latar belakang.  DiCaprio sangat apik memerankan tokoh pahlawan yang terluka. Sungguh menyedihkan saat menyaksikan detektif mulia ini mulai meragukan kebenaran persepsi.  Pemeran pendukung lain membantu perjalanan Daniels keluar dari kebingungan.
Era di mana kisah ini terjadi adalah pada saat manusia mulai menyadari asal-usul bahwa pasien mental dapat sembuh jika diperlakukan secara manusiawi, bukan sebagai tawanan.  Penggunaan obat-obatan psikotropika dan munculnya institusi-institusi dengan situasi lebih bersahabat mencerminkan kondisi ini. 
Scorsese berhasil menggambarkan dunia gelap ini dengan akurasi yang mencengangkan sehingga sebagian besar dari kita, untungnya, tidak akan pernah melihat dan merasakan nuansa teror yang mencekam. 
Gambaran mengenai penderita paranoid dan watak khayalan benar-benar terasa dan mengalir dalam alur cerita. Secara visual mengejutkan, spektrum orang-orang dengan gangguan kejiwaan pada pertengahan abad ke-20 digambarkan secara realistis.
Akting juga patut dipuji di sepanjang film, karena ditunjang para aktor berpengalaman yang secara cemerlang mampu menuangkan emosi dan mendalami peran mereka, bahkan dalam peran kecil sekalipun. 
Kompleksitas dan kerumitan persepsi serta hubungan yang realistis dan penuh kasih dieksplorasi di sini tanpa menghakimi, meninggalkan ruangan untuk menjangkau pemirsa sendiri memberi kesimpulan moral.

0 comments: